SEJARAH DESA KELANGDEPOK

BABAD DESA KELANGDEPOK

Pada zaman dahulu kala, ada utusan dari Brawijaya V atau Majapahit ( Raja Kertabumi) yang di tugaskan keluar pulau jawa, tepatnya di Sulawesi untuk membantu perang saudara yang sedang berlangsung di Sulawesi.

Setelah sampai ketempat tujuan, utusan tersebut menemui Raja Balinggi pimpinan di Sulawesi, kemudian utusan tersebut membantu Raja Balinggi untuk berperang selama tiga setengah bulan, utusan tersebut dipimpin oleh 3 bersaudara yaitu :

  1. Ki Ageng Anumerta
  2. Ki Ageng Nolomerto
  3. Ki Ageng Nologati

Setelah perang dianggap selesai tiga saudara tersebut dan sisa prajuritnya pulang menuju Majapahit, di tengah jalan bertemu dengan seorang anak keturunan Raja Brawijaya V yang bernama Nyimas Putri Panca Indra dari Majapahit, dari situlah tiga saudara itu mendapat tugas  ke bumi jawa bagian tengah tepatnya di daerah Pamalang dan tiga saudara itu diberi nama kesatuan ki Sukmo dengan tujuan untuk mempersatukan masyarakat pamalang yang pada saat itu masih belum ada kepemimpinan.

Pada hari Sabtu 26 Juli 1589 tibalah kesatuan tersebut disebuah tempat sunyi layaknya hutan belantara, Ki Ageng Anumerta, Ki Ageng Nolo Merto, dan Ki Ageng Nologati dibantu Nyimas Putri Panca Indra dan para pengikutnya mendirikan suatu padepokan di tempat tersebut.

Padepokan tersebut diberi nama Padepokan Ki Sukmo yang mempunyai arti lima kebaikan yang terkandung dalam panca indra dan lebih luasnya lagi merupakan ajaran yang terkandung dalam Kalimosodo ( Jati Bungkus ). Jati Bungkus mempunyai arti “ Carilah Jati Dirimu yang terbungkus dalam organ tubuhmu / Wadagmu “

Setelah mendirikan padepokan Ki Sukmo, maka tiga saudara ini melanglang bumi Pamalang mencari tempat agar bisa mempersatukan para sesepuh/ aulia – aulia pamalang, salah satunya mereka bertemu dengan seorang yang sangat arif dan bijaksana dari bagian timur laut yang bernama Ki Ageng Cempaluk. ( sampai sekarang di daerah Kesesirejo ada pesarean /makam  mbah Cempaluk).

Para sesepuh ataupun aulia melanjutkan perjalanan mencari tempat tempat yang cocok untuk di jadikan pesanggrahan, diantaranya  di daerah Pemalang sebelah selatan Randudongkal ditetapkan untuk Kadipaten Pamalang.

Sehingga sampai saat ini di daerah Belik ada pesarean/makam eyang Maja Langu ( Natasangin ).

Setelah medapatkan tempat untuk Kadipaten Pamalang para sesepuh / aulia – aulia melanjutkan perjalanan di daerah selatan, disitulah para sesepuh / aulia –aulia mendapatkan tempat untuk pemandian dayang – dayang, tepatnya didaerah air tejun kali Comal daerah Cikasur atau air terjun Sodong.

Para  Sesepuh / Aulia-aulia melanjutkan perjalanannya di daerah Pamalang tengah untuk mencari taman Kaputren, disitulah para sesepuh / aulia-aulia mendapatkan tempat, tepatnya di daerah Taman. Dan sampai sekarang dikenal dengan Tugu Taman, juga sampai saat ini di desa Jebed Selatan ada Pesarean ( Makam ) Mbah Pengalusan, Eyang Kebolandau / Ki Joko Tarub.

Setelah itu Para sesepuh / aulia – aulia melanjutkan perjalanan untuk mencari tempat percanden / tempat meditasi untuk pensucian diri/ petunjuk kepada Tuhan YME, dan sekarang di beri nama Pesucen( Tempat Suci ), dan percandian sekarang dikenal dengan nama Candi Mekar.

Setelah merasa  semua sudah lengkap dan para sesepuh/ aulia-aulia menempatkan diri ditempat yang ditentukan, maka tiga saudara dan pasukannya kembali ke padepokan Ki Sukmo.Dii padepokan tersebut tiga saudara itu membentuk dan memperkuat padepokan Ki Sukmo, Ki Ageng anumerta , Ki Ageng Nolo Merto, dan Ki Ageng Nolo Gati serta di bantu Nyimas Putri Panca Indra dan para pengikutnya.

Setelah padepokan Ki Sukmo sudah berdiri maka ki Ageng Nolo Merto mencari tempat meditasi di daerah barat / di sebarang sungai comal, ditempat itulah Ki Ageng Nolo Merto bertapa selama 40 hari, didalam pertapaannya Ki Ageng Nolo Merto mendapatkan petunjuk , “ Jaga Padepokan Ki Sukmo dan Daerah Pamalang ini “, maka lewat petunjuk itu Ki Ageng Nolo Merto menemukan  tempat untuk mencari tempat untuk mencari bimbingan langsung kepada sang penguasa ( Kemanunggalan ) sehingga sampai sekarang dikenal dengan Bimbing atau desa Blimbing dan setelah mendapat petunjuk Ki Ageng Nolo Merto kembali ke padepokan.

Pada masa itu Ki Ageng Nolo Gati beserta pengikutnya melanglang ke daerah padepokan, ditengah perjalanan Ki Ageng Nolo Gati menemukan tempat yang berisi segerombolan hewan-hewan yang semua terdiam, yaitu ular, kera hitam, kera putih, kuda dan babi.di tengah tengah hewan-hewan tersebut ada semacam kubangan air yang banyak ikannya, setelah mengetahui tempat tersebut beliau bersemedi ( meditasi ) mencari petunjuk dan didalam meditasinya beliau mendapatkan petunjuk bahwa disekitar berkumpulnya hewan tersebut ada semacam sengkeran /garis ghaib, siapapun yang menginjak / menduduki tempat itu tidak akan bertahan lama, terkecuali orang-orang yang bisa menahan hawa nafsu / iman sebab tempat tersebut sudah dikuasai sebangsa kekuatan kekuatan hitam, maka didaerah itu tempat berkumpul/wadah dan sampai sekarang dikenal dengan nama Tandon, kata Tandon bisa diartikan tempat, karena sudah ada padepokan.Ki Ageng Nolo Gati memberi nama dengan sebutan Kalangan.

Di Kalangan tersebut harapan dan tujuan yaitu untuk mencari orang-orang yang Linuwe / Sakti.Para jawara berdatangan untuk mengadu kesaktian, dari sekian banyak jawara tidak ada yang mampu mengalahkan ajaran Ki Sukmo dan jawara yang kalah, pusakanya,dijadikan satu dan dimakamkan, sehingga sampai sekarang dikenal dengan makam benda-benda bertua atau lebih dikenal dengan makan Sibenda.

Setelah semuanya dimakamkan disitu ada semacam garis pembatas wilayah antara kalangan dan padepokan, dengan sekejab mata garis gaib berbentuk memanjang seperti ular dari kulon, lor, wetan, sampai kidul dengan jembatan Pakedep sampai ujung kidul / Berang kidul, dan Ki Ageng Nolo Gati pulang ke padepokan Ki Sukmo.

Ki Ageng Anumerta dan nyimas Panca Indra menemukan tempat yang sangat ramai ada suara gamelan dan penari ronggeng. Nyanyian / tembangan itu tidak hanya untuk menghibur para tamu yang datang tapi mempunyai makna yang sangat dalam, yaitu tentang perjalanan manusia antara lahir dan batin harus sama, kejujuran lebih diutamakan, sabar dalam menghadapi segala cobaan / rintangan baik positif maupun negatif kita harus lego legowo, harus berani ngematke ati /mati makanya dari sekian banyak alat musik dimainkan dengan benar ,jika kita dengarkan akan terasa nyaman , sehingga sampai sekarang terkenal dengan makam Dowo.

Makam artinya tilas wujud uripe dhewe / jazad, sedangkan Dowo artinya kita harus bisa bersabar dan lihatlah masa depanmu( Kudu nduweni ati legowo ), ki Ageng Nolo Merto dan Nyimas Putri panca Indrapulang ke padepokan Ki Sukmo, setelah semua sudah kumpul maka para penggede-penggede padepokan  Ki Sukmo bermusyawarah, dalam musyawarah tersebut dihadiri seorang kesatria muda benama Raden Mas Ki Sapto Renggo dari kerajaan solo, dari hasil musyawarah tersebut masing – masing mempunyai tugas.

Ki Ageng Nolo Merto bertugas ke barat kali comal untuk selalu mencari bimbingan / petunjuk, agar kelestarian masyarakat Pamalang tidak terpengaruh hal-hal yang sifatnya tidak baik sebab pada zaman itu dikuasai 3 suku, yaitu suku tegel/ tegal yang mempunyai sifat kejam. Suku Purwokerto yang mempunyai sifat selalu ingin di sanjung/ merasa  paling tinggi dan hebat. Suku Pekalongan yang mempunyai sifat selalu meras cukup dan benar, tidak mau tau pendapat orang lain, sehungga sampai sekarangpun Pamalang Kulon bahasanya mirip orang tegal, sebelah kidul mirip orang Purwokerto dan wetan mirip orang Pekalongan, tugas Ki Ageng Nolo Merto untuk mempersatukan 3 suku tersebut. Akhirnya beliau wafat pada tahun 1674 M dan di makamkan de desa Blimbing.

Ki Ageng Nolo Gati beserta Raden Mas Sapto Renggo bertugas di Kalangan untuk menjaga garis gaib. Dari situlah Ki Ageng Nolo Gati berpesan pada Raden Mas Sapto Renggo “ Teruskan Perjuangan ku agar kelak daerah kalangan ini lepas dari garis gaib “ tidak lama kemudian Ki Ageng Nolo Gati wafat pada tahun 1689 M dan di makamkan di Makam Semboja.Raden Mas Sapto Renggo menjalankan pesan dari Ki Ageng Nolo Gati, sebelum memjalankan amanah tersebut Raden Mas Sapto Renggo meminta petunjuk agar bisa meneruskan amanah tersebut. Dari situlah amanah dari Ki Ageng Nolo Gati dijalankan dan akhirnya Raden Mas Sapto Renggo pulang ke Kerajaan Solo / Mataram untuk memperdalam syariat Islam.

Setelah belajar lebih dalam tenteng Islam beliau kembali ke Pamalang untuk menyebarkan agama Islam. Tahun demi tahun ajaran agama Islam dipahami oleh semua pengikut Ki Ageng Nolo Gati dan Raden Mas Renggo di juluki dengan  Syeh Salamudin dari situlah Syeh Salamudin dikkenal di tanah Jawa.

Pada akhirnya Syeh Salamudin di panggil ke tanah Pasundan / Pajajaran, sesampainya di pajajaran Syeh Salamudin diberi tugas untuk menjaga keamanan kerajaan. Beliau orang yang sangat pintar dan tau apa yang harus dikerjakan. Beliau bertapa di Kalangan Padepokan dan pada akhirnya beliau Napak tilas di tempat Kalangan sehingga sampai sekarang di daerah Kalang ada makam / Tapak tilas Syeh Salamudin – Raden Mas Sapto Renggo menapak tilas tahun 1804 M.Setelah Syeh Salamudin murco / napak tilas maka semua anggota Kalangan Padepokan berebut kepemimpinan. Dampak dari perebutan kepemimpinan tersebut terjadilah kekisruhan di Padepokan Ki Sukmo, semua saling menghasut antara Kalangan dengan Padepokan dan pada saat itu munculah seorang ksatria yang sangat tampan, kesatria tersebut mampu mengatasi kekisruhan yang terjadi di Kalangan dan Padepokan. Semua anggota / pengikut padepokan tersebut mengikuti aturan Ksatria tersebut.

“ Wahai saudara saudaraku janganlah engkau menyalahkan satu sama lain, ingat bahwa kita semua manusia ( Manunggaling Roso ) mahluk di alam ini yang paling sempurna, apa kita tidak punya malu, beban kita sebagai manusia, apa yang kalian rebutkan kepemimpinan / kedudukan “ marilah saudaraku kita harus bisa mengintrospeksi diri, apalah arti jabatan kalau kita tidak tahu asal usulnya, sebab kita sebagai manusia ada 3 pokok yang harus kita jalani / 3 lingkaran, lingkaran pertama yaitu tentang diri pribadi kita, sudahkah kita mampu menahan hawa nafsu kita dalam proses selama 24 jam, kita harus mampu memfilteri diri pribadi kita.Lingkaran yang kedua yaitu lingkaran keluarga/ saudara, kira kira bisa tidak kita mengatasi lingkaran kedua? Lingkaran yang ketiga yaitu tentang lingkungan tetangga, sudahkah kita mampu mempersatukan tetangga kita ? kalau kamu sudah bisa menjalankan 3 lingkaran tersebut, silahkan pimpin padepokan ini.

Setelah kesatria memberikan wejangan tersebut, satupun tidak ada yang bisa menjawab, semua hanya diam membisu. Pada akhirnya ksatria tersebut memperkenalkan alat – alat gamelan satu persatu tetapi bentuknya berbeda – beda, dan jika kita memukul gamelan dengan kompak / bebarengan dengan satu komando maka gamelan tersebut berbunyi merdu.tetapi kenapa kita sebagai manusia  tidak bisa saling menghormati, saling menyayangi, bagaimana keharmonisan kita sebagai hambanya tidak bisa bersatu / saling mencemooh, dan pada akhirnya ksatria tersebut mengutus salah seorang anggota Kalangan Padepokan / Padepokan Ki Sukmo untuk meneruskan perjalanan Padepokan Ki Sukmo, semua anggota tersebut berkumpul di sebelah kidul padepokan , dari situlah Ksatria memberikan pesan keseluruh anggota bahwa saya akan melanjutkan pengembaraannya bertapa di tepi kali yang mengalir ke laut utara.

Pada akhirnya tempat persinggahan ksatria tersebut sampai sekarang ditandai dengan makam / tilas ksatria dari timur yang sekarang dikenal dengan mbah Jogo, tempatnya di RW. 04 RT. 02 di belakang rumah Bapak Mundiun. Ksatria dan tempat pertapaannya yang kala itu di pinggir kali . salah satu peninggalannya adalah Batu Hitam yang ukurannya 1 M² ( belum bisa ditampakkan ) dikarenakan menunggu waktu yang tepat, setelah Mbah jogo  Murco /  Napak Tilas maka salah satu anggota padepokan tersebut yang di percaya, karena kesaktiannya yang sangat luar biasa, yang bernama mbah kyai Nur Malik.

Berbagai macam cobaan untuk mengatur anggotanya / warganya supaya bisa bersatu, kala itu berbagaimacam kelompok lain selalu bertentangan / musuhan.

Pada saat itu mbah Nur Malik mempunyai pegangan Macan Bumi yang dalam waktu sekejap mata beliau dapat berpindah – pindah tempat, dengan kesabaran mbah Nur Malik akhirnya anggotanya / warganya menyatakan bahwa Mbah Nur Malik menjadi Pimpinan Kalangan Padepokan, karena kegigihannya setiap kali anggota / warganya mempunyai suatu rencana selalu muncul macan Mbah Kyai Nur Malik dan selalu berbarengan, maka warga Kalanga padepokan menyatakan bahwa Pemimpin kami ialah Mbah Kyai Nur Malik / lebih dikenal dengan Mbah Lurah Kreneng.

Setelah Mbah lurah kreneng memimpin dari tahun 1855, warga Kalangan Padepokan tentram, karena selalu dilindungi dari bahaya yang selalu datang tiba-tiba.Mbah Kyai Nur Malik/ Mbah Lurah Kreneng mempunyai darah silsilah kewalian, selama kekuasaan mbah Lurah Kreneng nama Kalangan Padepokan , Kalangan mempunyai arti tempat untuk bertanding ( lahiriyah ) dan Padepokan artinya tempat berkumpulnya para penggede / Jawara bermusyawarah ( Batiniyah ), maka Mbah Lurah Kreneng memberi nama desa menjadi Kelangdepok (Lahir Batin supaya bersatu).

Karena beliau sudah sepuh, anak kandungnya selalu dituntun untuk bisa menggantikannya, dan pada akhirnya beliau menyerahkan kekuasaan pada anak kandungnya yang sekaligus memberikan wasiat / pegangannya yang dikenal dengan macan bumi. Selama 22 tahun memimpin beliau lengser dari lurah pada tahun 1877 dan wafatlah Mbah Lurah Kreneng dan dimakamkan di makam Munduh / tanah milik pribadi.

Pada tahun 1877 kekuasaan / lurah desa kelangdepok dipimpin oleh Mbah Lurah Sutopo / Rekinah, di dalam kepemimpinannya mbah Lurah Sutopo / Rekinah berkuasa selama 18  tahun dan masyarakat desa Kalangdepok tetap kondusif dan tentram, beliau lengser dari jabatan Lurah pada tahun 1895.

Pada tahun 1895 kekuasaan di pegang oleh keturunan Mbah Lurah Sutopo / Rekinah yang bernama Abdul Syukur, dalam kepemimpinannya Mbah Lurah Abdul Syukur selam 27 tahun, dan masyarakat Desa Kelangdepok aman dan damai, beliau lengser dari kepemimpinan Desa Kelangdepok pada tahun 1922.

Pada tahun 1922 kepemimpinan Desa Kelangdepok dipegang oleh keturunan dari Mbah Lurah Abdul Syukur yang bernama Mbah Umar, dalam kepemimpinan Mbah Lurah Umar selama 20 Tahun, ada semacam kegonjang – ganjingan, kala itu bermasalah pada pemerintah daerah . Pada kepemimpinan Mbah Lurah Umar, beliau selalu berani mengambil keputusan demi warga Kelangdepok, walau mengancam jabatannya  sebagai Lurah, pada waktu itu beliau meminta bantuan kepada salah satu  warganya yang kala itu sangat disegani karena kesaktiannya, yang bernama Mbah Sarpangi / Ki Joyo Dimerto.

Pada kejayaan Mbah Lurah Umar kala itu di bagi dua kepemimpinan antara Mbah Lurah Umar di Kalang dan Mbah Lurah Sarpangi / ki Joyo Dimerto di Depokan, dan pada akhirnya Mbah Lurah Umar lengser dari kepemimpinannya pada tahun 1942. Karena pada zaman kepemimpinan Mbah Lurah Nurmalik / Mbah Kreneng sampai masa mbah Lurah Umar itu masih satu darah, maka pesaren / makamnya dijadikan satu tempat yang kala itu diberi nama Makam Munduh, yang sampai sekarang ada makamnya Mbah H. Mukhtar.

mbah Lurah Sarpangi / Joyo Dimerto lengser pada tahun yang sama yaitu tahun 1942, dan pada akhirnya beliau wafat dan dimakamkan di makam dowo. Setelah lengsernya dua kepemimpinan itu  ( Mbah Lurah Umar dan Mbah Lurah Sarpangi ) maka kepemimpina  Desa Kelangdepok dipimpin oleh Mbah Lurah Sutoproyo pada tahun 1942, tugas Mbah Lurah Sutoproyo yaitu mempersatukan kembali antara Kalang dan Depokan, pada kejayaan masa Mbah Lurah Sutoproyo selama 4 tahun mampu mempersatukan Desa Kelangdepok dan pada akhirnya kepemimpinan Mbah Sutoproyo lengser pada tahun 1946, dan akhirnya beliau wafat  dimakamkan di dukuh Lorog.

Pada tahun 1946 kepemimpinan Desa Kelangdepok dipimpin oleh Mbah Lurah H. Sisup, didalam kepemimpinan Mbah Lurah H. Sisup selama 2 tahun itu belum bisa mempersatukan warga Desa Kelangdepok, dikarenakan Mbah Lurah H. Sisup pergi untuk memperdalam ilmu kebatinannya, maka kepemimpinan Desa Kelangdepok dipimpin oleh Mbah Lurah Dulkarim pada Tahun 1948.

Pada masanya Mbah Lurah Dulkarim selama 11 tahun masyarakat Desa Kelangdepok Kacau dikarenakan berbagai macam golongan masuk ke Desa Kelangdepok dan pada akhirnya Mbah Lurah Dulkarim lengser dari kepemimpinan pada tahun 1959, beliau wafat dan dimakamkan dimakam semboja. Setelah lengsernya Mbah Lurah Dulkarim kepemimpinan Desa Kelangdepok kosong selama 5 Tahun, dari kekosongan tersebut munculah Mbah Lurah H. Sisup yang yang kala itu pergi untuk memperdalam kanuragan, Mbah Lurah H. Sisup memimpin kembali Desa Kelangdepok pada tahun 1954 .

Dalam kepemimpinan Mbah Lurah H. Sisup selama 21 tahun warga Desa Kelangdepok mendapatkan ketentraman dan pada akhirnya beliau lengser pada tahun 1975 , beliau wafat  dan dimakamkan di makam Katilampok.

Setelah Mbah Lurah H. Sisup Wafat kepemimpinan Desa Kelangdepok Kala itu dipimpin oleh keturunan dari silsilah Mbah Lurah Nurmalik / Mbah Lurah Kreneng pada tahun 1975 yang bernama H. Sofian Purdiono. Selama kepemimpinan Mbah Lurah H. Sofian Pudiono selama 23 tahun masyarakat desa kelangdepok melihat kenangan / tilasnya yaitu Balai Desa Kelangdepok , Lapangan Sepak Bola , Jalan dan lain lain. Dan pada akhirnya beliau lengser pada tahun 1998, beliau wafat dan dimakamkan di makam katilampok

Pada tahun 1998 kepemimpinan Desa Kelangdepok dipimpin Oleh Bapak Lurah Iman Santosa, dimasa kepemimpinannya selama 8 tahun maka warga Desa Kelangdepok bisa  melihat kenangannya yaitu sebuah gapura pintu masuk Desa Kelangdepok dan lain sebagainya,setelah beliau lengser ditahun 2006 kepemimpinan Desa Kelangdepok dipimpin oleh Bapak Lurah Abdullah, beliau memimpin Desa Kelangdepok selama 4 tahun dan lengser pada tahun 2010 , setelah lengsernya Bapak Lurah Abdullah Desa Kelangdepok merubah sejarah dimana kala itu dukuh depokan ada seorang lurah yang mempunyai silsilah keturunan dari Mbah Sarpangi di beri gelar dengan julukan Ki Joyo Dimerto yaitu kepemimpinan bapak Lurah Muh. Hasanudin pada tahun  2010 sampai 2016. Setelah Bapak lurah Muh. Hasanudin Lengser, Desa Kelangdepok di pimpin Oleh  beliau  Kepala desa dari kalangan Pemuda yang sangat berperan aktif dalam kemasyarakatan yaitu Bapak Mochamad Arifin  yang di lantik tahun 2016 sampai sekarang

Sejarah ini diolah dari berbagai sumber